21 Jumadilawal 1448 H Minggu, 01 November 2026

HIKAYATJAWI حكاية جاوي
Ulama Nusantaraعلماء الجوّيّين

“Hamzah Fansuri dan Perahu yang Berlayar ke Dalam Diri”

Di pesisir barat Sumatra, ada sebuah bandar tua yang namanya pernah dikenal sampai ke Persia dan Mesir: Barus. Dari sinilah kapur barus diperdagangkan ke berbagai penjuru dunia. Para pedagang Arab menyebut tempat ini Fansur. Dari nama bandar itu pula, seorang penyair sufi abad ke-16 mendapat namanya: Hamzah Fansuri.

Kita tidak tahu persis kapan ia lahir dan kapan ia wafat. Catatan tentang hidupnya sedikit, dan sebagian besar harus disimpulkan dari karyanya sendiri. Namun dari karya-karya itulah kita tahu bahwa ia pernah merantau jauh, menuntut ilmu ke tanah Arab, dan pulang membawa sesuatu yang kelak mengubah wajah sastra Melayu.

Merintis syair Melayu

Hamzah Fansuri kerap disebut sebagai penyair pertama yang diketahui namanya dalam tradisi syair Melayu. Ia menulis dalam bait empat baris dengan rima sama di ujung setiap baris, bentuk yang kemudian menjadi ciri khas syair. Sebelum dia, puisi Melayu lebih banyak hidup dalam bentuk pantun dan gurindam yang dituturkan tanpa nama pengarang.

Ada satu kebiasaan yang membuat karyanya mudah dikenali: ia sering menyebut namanya sendiri di dalam bait. Kebiasaan ini lazim dalam puisi sufi Persia, dan Hamzah membawanya ke dalam bahasa Melayu. Bait yang paling sering dikutip barangkali yang ini:

Hamzah Fansuri di dalam Mekah
Mencari Tuhan di Baitul Ka'bah
Di Barus ke Kudus terlalu payah
Akhirnya dapat di dalam rumah

Empat baris itu merangkum sebuah perjalanan panjang: dari Barus ke Kudus (Baitul Maqdis), lalu ke Mekah, dengan segala lelahnya. Tetapi yang dicari justru ditemukan “di dalam rumah”. Para pengkaji umumnya membaca “rumah” di sini sebagai diri manusia sendiri. Perjalanan lahir menuju tempat-tempat suci berujung pada perjalanan batin.

Laut, perahu, dan bahasa yang diperkaya

Sebagai anak bandar, Hamzah akrab dengan laut. Perahu, ombak, nakhoda, dan pelabuhan muncul berulang kali dalam syair-syair yang dinisbatkan kepadanya. Laut menjadi kiasan bagi hakikat yang tak bertepi, sedangkan perahu adalah tubuh dan jiwa manusia yang harus dikemudikan dengan ilmu.

Selain syair, ia juga menulis prosa tentang ajaran tasawuf, di antaranya Asrar al-‘Arifin, Syarab al-‘Asyiqin, dan al-Muntahi. Kitab-kitab ini termasuk tulisan awal yang membahas pemikiran tasawuf secara panjang dalam bahasa Melayu. Di dalamnya, Hamzah meminjam banyak istilah Arab dan Persia, lalu menjelaskannya dengan kata-kata sehari-hari. Bahasa Melayu pun bertambah kaya: ia sanggup memikul gagasan yang rumit tanpa kehilangan kesederhanaannya.

Hamzah tidak sekadar menerjemahkan tasawuf ke dalam bahasa Melayu. Ia mengajari bahasa Melayu cara berpikir tentang hal-hal yang paling dalam.

Ketika kitab-kitab dibakar

Ajaran Hamzah tidak diterima semua orang. Pemikirannya dikaitkan dengan paham wujudiyah, yang dalam pembacaan para penentangnya dianggap mengaburkan batas antara Tuhan dan makhluk. Pada abad ke-17, ketika Nuruddin ar-Raniri berpengaruh di istana Aceh, ajaran Hamzah dan muridnya, Syamsuddin as-Sumatrani, dinyatakan menyimpang. Menurut catatan sejarah yang banyak dirujuk, kitab-kitab mereka kemudian dibakar.

Perdebatan itu sampai hari ini masih dibicarakan. Sebagian sarjana berpendapat bahwa Hamzah dibaca terlalu harfiah oleh para penentangnya, dan bahwa ajarannya sesungguhnya berakar pada tradisi tasawuf yang mapan. Sebagian lain melihat pembakaran itu sebagai bagian dari pergulatan politik dan keilmuan di istana. Yang jelas, tidak semua karyanya musnah. Naskah-naskahnya tetap disalin, disimpan, dan dibaca diam-diam, sampai akhirnya dikaji secara serius oleh para peneliti modern, termasuk Syed Muhammad Naquib al-Attas.


Mengapa masih layak dibaca

Membaca Hamzah Fansuri hari ini tidak berarti harus setuju dengan seluruh ajarannya. Ada alasan lain yang tak kalah penting. Ia menunjukkan bahwa bahasa Melayu, yang kini menjadi akar bahasa Indonesia, pernah dipakai untuk merenungkan pertanyaan-pertanyaan terbesar manusia dengan indah dan sungguh-sungguh.

Ia juga mengingatkan bahwa khazanah kita tidak lahir di ruang hampa. Dari sebuah bandar kecil di pesisir Sumatra, seorang penyair bisa bercakap dengan tradisi Arab dan Persia, lalu menjawabnya dalam bahasanya sendiri. Barangkali itulah pelajaran paling berharga dari Hamzah: pencarian yang jauh sering kali berakhir di tempat yang paling dekat.

Seperti dalam baitnya, setelah semua payah perjalanan, yang dicari ternyata ada di dalam rumah.

Tulis tanggapan

Email tidak ditampilkan. Tanggapan dimoderasi sebelum tayang.